Apr
28
Filed Under (curhat) by tyas-ary on 28-04-2009

Assalamualaikum teman-teman…

Dah lama ga curhat-curhatan nih… Kali ini bolehlah kiranya, aku berkangen-kangen ria… Hehe.. sepertinya akan menguras emosi nih tulisannya…

Pulang kantor kemaren, hari Senin malam yang bisa diperkirakan akan sedikit (kalo ga boleh dibilang banyak :P) macet di jalan, aku mampir ke kantin tower dan langsung menyambar makanan yang tersisa.. Pisang goreng sepotongpun tak mengapa, buat ganjel, lumayanlah…

Sambil duduk di ruang tunggu aku mengunyah pisgor hasil buruanku, nyam nyam nyam… Hmm… rasanya begitu melekat di hatiku. Lho, kok bisa? Emang apa bedanya sama pisgor-pisgor yang laen? Pisang goreng yang kumakan ini, sedikit sepet (sepet artinya belum mateng benar-red), masih rada keras.. Dibalur tepung yang tebel.

Persis banget sama pisang yang duluuuuu banget sering kumakan, pisang goreng langganan ibu. Selesai belanja sayur mayur, sering kali ibuku mampir untuk membeli sekantong plastik gorengan, biasanya ga jauh-jauh dari pisang, tempe, ubi, dan gembos (gembos itu adalah ampas dari pembuatan tempe/tahu). Penjualnya adalah ibu tua, waktu aku kecil aja kayanya dah 60 tahun-an. Ibu itu memilih berjualan di tempat yang rada masuk ke dalam pasar, kurang strategis alias mumpet. Rasa gorengannya juga ga bisa dibilang bombastis, pas-pasan alias biasa-biasa aja. Tapi entah mengapa, ibu seriiiiiiiing banget beli ke mbah itu.

Wajannya lebar, minyaknya penuh nyaris tumpah. Di belakangnya teronggok tumpukan tempe hand made (kayanya bikinan sendiri deh, soalnya ukurannya ga standar gitu) menanti dicemplungin ke penggorengan. Sesekali si ibu, dengan kebaya tanpa kendit mengusap keringatnya yang nyaris jatuh, ikut menuh-menuhin wajannya…

Aku baru sadar, waktu sudah lama berlalu. Waktu itu aku masih SD. Masih harus dipegang kenceng lenganku sama ibu kalo mau nyebrang jalan. Masih suka ngeyel pengen pergi ke pasar malam. Masih suka lempar-lempar buku kalo susah ngerjain Pe-Er (duh… isin banget…).

Dan gorengan yang cuma sepotong itu mengingatkan aku. Membawaku kembali ke sekian belas tahun yang telah terlewati. Masih sehatkah simbah yang jualan gorengan itu? Kok jadinya pengen pulang kampung yaa…

Sedikit melayang ke masa lalu… Inget banget, dulu waktu belajar naik sepeda. Kayanya mbak Is dan Bapak dah nyerah tuh ngajarinnya, hehe… Puter-puter di pelataran TK Sejahtera Loka saban sore juga teteup belum berani ikutan ke Curi Buthak untuk berburu mangga. Dan yang ga kalah seru, pergi berenang ke Garden River, Salatiga.. Hehe… pasti kalian2 bertanya-tanya, Garden River Salatiga? Iya, Garden River istilah keren dari Kali Taman (sumpah… garing yaaa). Pertama banget adalah sama Bapak, he´s the one and only person yang canggih berenang di rumah kami (kalo sekarang, kayanya de Tria dehhh…). Saking senangnya berenang, aku dan mbak Is minta lagi, minta lagi ke Garden River. Meskipun cuma bisa bergaya batu di atas ban item (mana aku juga item, bannya juga item–>tambah mirip aja sama batu hihihi…). Sepulang berenang, bapak biasanya langganan kerokan :P. Dan bapak ga kapok memenuhi keinginan kami.

Jadi inget juga dulu suka rebutan majalah Bobo sama mbak Is. Beberapa kali majalah sobek saking hebohnya tarik-tarikan. Wah wah… Kami memang lucu, kadang kompak, kadang berantem :P. Saking kompaknya, berseri-seri film silat Mandarin dah khatam berkat patungan hasil menyisihkan uang jajan. Saking kompaknya juga, kursi hijau bersejarah dari zaman kami belon ada menjadi korban aksi meniru adegan silat Mandarin Thio Bu Ki, dan Kwe Ceng, Ciaaaaat!!!! Gedubrak…. Prakkk!!!

Jadi inget juga sempet punya banyak kucing di rumah. Ada willy, temon, manis, duh siapa lagi ya namanya? Oya, ada yang namanya Endang, hahaha… Sampai2 sempat ga enak ama tetangga di belakang rumah, namanya juga Endang karena suka banget teriak2 ngabsen kucing kalo dah waktunya makan. Benar-benar tak terlupakan.

Sekarang mbak Is dah punya anak, aku juga udah. Masa kanak2 adalah milik mereka, anak-anak kami. Semoga masa kanak2 kalian berbahagia yo gendhuk dan thole… :)
——————————————————————————————————

Jauhnya melangkah, tak terasa lelah yang menerpa

Kini kian dekat segala yang pernah kudamba

Lalu darimana datangnya rindu

Membuatku ingin berlari

Biarkan aku kembali

Bermain berlari berputar menari

Biarkan aku kembali

berkhayal melayang terbang jauh tinggi

Biar ku pejamkan mata, sejenak kembali

Masa kecilku….

(Indra Lesmana - Biarkan Aku Kembali)