All about my unforgettable moments, my learning experiences, anything that hopefully useful to read
Topik ini sebenarnya sudah pengen kutulis sejak lama, tapi ‘belum sempat’ menjadi alasan klise. Waktu itu ibu-ibu pengajian ngumpul lagi. Kali ini topik mengaji adalah tentang hubungan suami istri. Seru yaa.. Jarang-jarang kan pengajian tentang urusan yang satu ini. Semua pada tercenung dengan penjelasan bu ustadzah.
Sampai akhirnya aku tergelitik dengan pertanyaan yang satu ini. Rada Out of Topic, tapi tetep aja kutanyakan. Bu, bagaimana dengan ber-KB? Halal gak tuh? Dan bu guru menjawab, ” Halal.. asal tujuannya bukan untuk membatasi. Kalau tujuannya mengatur jarak antar kelahiran anak sih boleh bu. Tapi kalau ibu cuma pengen dua anak aja, terus stop.. Naaa… ini yang dilarang. Karena rasul akan bangga dengan banyaknya umat Islam di muka bumi ini. Lagian ibu-ibu di sini kan rata-rata berpendidikan, mampu dari segi materi. Kenapa kok membatasi anak segala? Ibu-ibu coba lihat bibi-bibi yang membantu tugas sehari-hari kita, dan tanyakan jumlah anak mereka. Ada yang anaknya empat, anaknya lima. Sedangkan mereka kurang mampu dan tidak berpendidikan seperti ibu-ibu di sini lho… Coba kita yakin bahwasanya Allah Maha Pemberi Rizki, dan kita akan mampu membesarkan anak-anak kita. Maka niscaya akan lebih banyak umat Islam lahir dari rahim ibu-ibu yang siap mendidik anak-anaknya”.
Bu Ustad menjawab dengan berapi-api. Beliau sekarang dikaruniai empat anak, dan masih bersedia jika Allah kembali menitipkan anak padanya. Subhanallah… Dan setelah pertanyaan itu dijawab, ibu-ibu pada “gemremeng…” (note : gemremeng itu bahasa Jawa yang kalo diartikan kurang-lebih berbisik-bisik). “Wah.. gimana nih… dua aja dah repot..”. Ada juga yang bilang “Copot KB deh abis ini… jadi semangat punya anak lagi…”. Hehehe macem-macem ya reaksinya.. Tapi kalau dipikir-pikir bener lho kata bu Ustad itu. Kok ya kurang yakin sama Allah, sang Rozaq. Allah yang Mughniy, dan Allah yang Rahman. Rizki adalah bersumber dari Allah, kita tinggal minta dan berusaha toh? Allah yang memperkaya kita dan mengasihi kita. Masak dengan hamba yang dikasihi, Allah tidak memberi jalan keluar dan kelapangan rizki?
Kebetulan waktu itu ada bi Acih yang membantu setiap hari di rumahku, suaminya seorang sopir serabutan. Anaknya lima. Tiap bulan harus mencukupi sekolah anak-anaknya. Dengan hidup yang amat sangat pas-pasan mereka bisa bertahan. Padahal bi Acih cuman SD aja sekolahnya, lulus apa enggak aku ga tahu. Bener juga loh, malahan orang-orang seperti mereka ga takut repot ya punya banyak anak… Padahal kan kita yang rata-rata lulusan perguruan tinggi ini yang lebih terpelajar. Dengan penghasilan keluarga yang alhamdulillah masih bisa disisihkan sedikit untuk menabung. Aku jadi malu sama Bi Acih. kalah jauh dalam urusan yang satu ini.
Dengan Lintang saja rasanya sudah Wow… Dan sekarang dengan adanya Langit, memang terjawab kok pernyataan bu ustad. Alhamdulillah masih bisa tertangani dengan baik. Dengan dibantu suami dan dua asisten hehehe… Jelas masih kalah sama Bi Acih, yang ga dibantu siapa-siapa. Dan saat ditanya teman-temanku apakah anakku cukup dua aku menjawab dengan tersenyum… Cukup dua untuk saat ini. Tapi nanti seandainya Allah berkenan, ditambah lagipun akan saya syukuri (sekarang ini napas dulu hehehe… )
Oke teman-teman… selamat ber-KB dengan bijak… semoga dengan begitu kita dikaruniai Keluarga Berkah…. amien…
September 2008,
Jeng Tyas, bundanya Lintang dan Langit…