Jul
08

Cerita Pagi

Filed Under (Uncategorized) by tyas-ary on 08-07-2007

Pagi buta. Aku berangkat menuju ke bandara, tempat towerku berada. Agak pilek, agak menggigil, dengan basmalah kutetapkan langkahku. Semoga hari ini semuanya lancar, begitu harapku. Tidak ada yang aneh. Suamiku yang sabar dengan senang hati mengantar keberangkatanku, meskipun gurat lelah belum juga hilang dari wajahnya. “Hati-hati di jalan ya de…”, begitu pesannya. Pesan setiap hari yang kurang lebih sama. Sambil mencium punggung tangannya, aku bersyukur masih dapat mendengar pesan itu. Sopir Damri dengan ramah tersenyum. Seramah senyum simetri dua centi kanan, dua centi kiri. Alhamdulillah jadi alumni ESQ jadi tahu yang namanya senyum simetri :). Jadi suka mikir apakah senyumku sudah sesimetri senyum itu. Dua centi kanan, dua centi kiri.

Dan bis Damripun melaju. On-time sekali. Alhamdulillah… kemajuan yang layak dibanggakan. Setelah sebelumnya seringkali aku harus menggerutu karena sopir yang suka berleha-leha sambil merokok di halte. Entah masih ngantuk, entah kedinginan. Yang jelas bisa bikin amburadul jadwal terbang penumpang. Cikarang-Bandara yang beribu-ribu jengkal jaraknya, telat seperempat jam saja bisa jadi beda cerita.

Masuk ke pintu tol Cikarang Barat aku yang mepet jendela seperti biasa tengok sana sini, melihat barangkali pak Sopir harus berhenti mengambil penumpang lagi dari pintu tol ini. Dan yang kulihat bukan penumpang yang ketinggalan bus. Bukan juga penjual air mineral yang selalu dengan sigap melambaikan dagangannya ke arah para sopir yang lewat. Pemandangan yang membuatku miris, sedih, dan iba sekaligus. Seorang anak dalam gendongan ibunya. Umurnya mungkin di bawah satu tahun. Lintang, anakku jauh lebih gemuk. Anak itu, bertelanjang kaki dan setengah telanjang. Dari gendongannya yang sedikit tersingkap, tampak dia tidak mengenakan celana. Hanya kaos lengan pendek yang kumal dan tipis. Sambil mengusap-usap mukanya, ibunya terus saja berjalan. Dengan langkah enteng dan tenang.

Ya Lathiif… Engkau yang Maha Lembut, bagaimana sanggup hamba melihat anak itu. Sedangkan anak hamba begitu nyaman terlelap di balik selimutnya. Sedangkan berkerat-kerat roti tersimpan di dalam tas bekal hamba. Mereka yang kelaparan, entah karena kemauan sendiri atau tidak ada pilihan lagi harus mencari rizkiMu seperti ini.

Mata yang semula ngantuk jadi susah terpejam. Apakah pantas seorang anak menyapu hari sepagi ini. Orang tua mana yang tega mengajaknya dalam kedinginan pagi.

Ternyata ada. Ada saudara kita yang melakukan ini. Kasur yang empuk, roti yang nikmat, belum menjadi milik semua orang. Bagaimana dengan susu hangat? Bagaimana dengan bubur yang mengenyangkan? Dan belum lagi sederet pertanyaan untuk anak bayi itu. Bagaimana kalau bayi itu lapar? Bagaimana kalau nanti bayi itu pipis dan basah selendangnya? Bagaiman kalau dingin pagi menyesakkan nafasnya? Bagaimana dan bagaimana?

Ya Rahman… Engkau yang Maha Kasih… kemana larinya nurani hamba, yang dengan enteng menghempaskan sisa sayur dan nasi di tempat sampah, manakala ada yang begitu membutuhkannya. Bahkan saat ini hamba hanya dapat terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.

Bisku semakin kencang melaju. Hari ini kuawali dengan rasa sesak. Tidak sebanding semua yang kurasakan dengan apa yang dirasakan oleh ibu dan anak itu. Allah Pelindung kami… Tidak ada yang mungkin terjadi tanpa izinMu. Sering kali hamba masih mengikuti rasa letih ini, berharap dapat segera kau angkat seketika. Letih ini, penat ini, memberikan hamba sesuatu yang tak dimiliki oleh sebagian orang di muka bumi ini. Hamba dapat melengkapi semua kebutuhan hamba. Hamba tanpa khawatir sedikitpun dengan leluasa membeli susu terbaik bagi anak hamba.

Badan ini terhempas. Pemandangan sekelebat yang susah dilupakan. Bahkan sampai detik ini. Engkau yang Maha Kaya ya Allah… Tumbuhkan kesabaran bagi mereka. Beri kekuatan ya Allah, menapaki hari-hari yang kau karuniakan bagi mereka.

Ya Allah yang Maha Kuasa.. Sangatlah mudah bagimu menukar tempat kami. Bukan mustahil kelak hambaMu yang masih sombong ini merasakan derita yang sama. Walaupun miskin harta mereka ya Allah, walaupun papa keadaan mereka ya Allah… Jangan Kaubiarkan mereka melupakanMu. Jangan biarkan mereka jauh meninggalkanMu.

Tak terasa sampai juga aku di towerku. Menjulang tinggi, dengan kokoh. Namun bisa tumbang kapanpun Engkau menghendakinya. Aku mencoba memantapkan kaki ini. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Tidak akan selesai masalah hanya dengan bersedih hati.

Ya Allah, jadikan sa’i ini membawa keberkahan. Bukan hanya bagi hamba, namun juga mereka yang membutuhkan di luar sana.

Amien……

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
(QS Ath Thaalaq:7)

Menjelang pulang dinas PS di hari Minggu.
8juli2007



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: