May
18
Filed Under (Uncategorized) by tyas-ary on 18-05-2006

Setiap
orang hidup dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang
cukup ada yang kurang dan ada yang berlebih. Ada seorang yang kukenal jika
dilihat sekilas, sama sekali tidak ada kekurangan. Cantik, pintar, berkecukupan
dalam hal materi. Tapi siapa yang menyangka bahwa rumah tangganya penuh dengan
permasalahan. Ada juga yang mendapatkan karir gemilang dimana orang lain sangat
menginginkannya. Ada juga yang kaya raya, tapi begitu susahnya terlepas dari
pengaruh narkoba.

Mungkin
aku termasuk orang yang tidak begitu pintar. Dari segi keahlian bekerja aku
biasa-biasa saja. Hanya kemauan dan semangat yang membuatku masih bertahan
sejauh ini. Aku tak butuh disebut “excellent” kok, aku cukup berusaha semampuku
memberikan yang terbaik. Begitu kata hatiku.

Aku
juga bukan seorang yang gemilang dari segi penampilan. Meskipun dari hati
kecilku aku menemukan kenikmatan saat berhasil menjadi pusat perhatian (hehe…
maklum, namanya juga perempuan).

Pekerjaan
yang kuperoleh sekarang ini bukan tanpa pengorbanan. Mungkin banyak di antara
teman-temanku yang merasa benar-benar pantas dan mudah dalam memperoleh
pekerjaan mereka. Bagaimana denganku? Aku tak lebih dari seorang yang enggan
menyia-nyiakan kesempatan, berusaha yang terbaik, dan berusaha siap dengan
segala kemungkinan. Kegagalan yang lalu membuatku demikian berhati-hati dalam
menaruh harapan. Hanya yang terbaik bagiku yang kupinta kepada Allah. Terbaik
di mata yang lain belum tentu terbaik juga bagiku. Demikian aku berusaha
mengatasi kekecewaan dalam setiap kegagalanku. Bahwa ini bukan yang terbaik
bagiku. Bahwa akan datang yang terbaik suatu saat nanti. Begitu juga
pekerjaanku ini, jerih payah yang ternyata jawaban dari keinginanku selam ini. Dengan
izin Allah tentu saja
J

Tentu
saja aku tidak selalu berhasil memiliki segalanya. Teringat saat kecil aku
meminta radio FM di ulang tahunku, dan aku terpaksa menahan kekecewaanku. Aku
tahu kedua orang tuaku begitu ingin membelikannya, hanya saja masih banyak yang
harus dipenuhi selain radio FM mungil dambaanku. Punya kamar sendiri juga
akhirnya dapat kunikmati setelah sekian lama harus bersabar bobo dengan
pembantu. Tapi selalu ada hikmahnya, aku jadi sangat menghargai setiap barang
yang diberikan kepadaku, mengingat betapa susah payah bapak dan ibu menyisihkan
uang untuk memperolehnya.

Bahkan
kejutan-kejutan dari bapak ibu terkadang kurasa terlalu “mahal” (di saat
teman-temanku yang lain menganggapnya biasa-biasa saja). Celana jins kado naik
kelas (aku akhirnya punya celana jins hitam sendiri!!! Bukan lungsuran dari
mbakku), rak kecil untuk menjemur handukku sendiri (biar gak berebut sama
mbakku juga hehehe), dan akhirnya tanpa diminta aku dibelikan organ yang aku
yakin hasil menyisihkan gaji sekian lama kedua orang tuaku.

Tadinya
memang keluarga kami tidak terlalu berkecukupan. Dengan kedua orangtua bekerja
dan beban keluarga yang berat mengingat bukan hanya keluarga induk kami yang
harus di’hidupi’, aku harus bersabar dengan minimnya waktu dan materi yang
kuperoleh. Tak sedikit masalah dalam keluargaku. Masalah-masalah yang telah
berhasil mendewasakan aku. Alhamdulillah kami sekeluarga berhasil melewati
semua itu.

Dan
sekarang segalanya berubah menjadi lebih baik. Dengan suami yang lucu, periang,
dan sabar aku berhasil memupuk percaya diriku. Aku berhasil menjadi seorang yang
lebih tenang karena ada yang selalu siap mendampingi dan mendengarkanku. Aku
juga punya empat orang tua (dua lagi tambahan dari suamiku hehehe) yang begitu
menyayangiku. Betapa mereka jauh-jauh datang dari Salatiga untuk membuatkan
soto (maklum aku sedang nyidam soto hihihi…), untuk membantu membersihkan
rumah, bahkan sepeda motor kami tak luput dari lap basah Bapak yang dengan
lincah mengkilapkannya. Belum lagi sekotak oleh-oleh yang cukup untuk dibagikan
ke tetangga baru kami. Sms-sms penuh makna dari bapak yang selalu kutunggu
(akhirnya aku berhasil mengajari bapak ngirim sms :P). Aku juga punya
saudara-saudara yang tak pernah absen mengirimkan doa untukku. Aku punya rumah
cicilan yang tak pernah kupikir dapat kami miliki sebelumnya. Aku juga punya si
kecil yang seringkali membuatku takjub dengan tendangan-tendangan kecilnya di
dalam rahimku. Allah benar-benar memberikan banyak kenikmatan bagiku. Bahkan
jarak yang jauh antara aku dan tempat tinggalku semakin hari semakin dapat kunikmati
(walau terkadang aku masih berandai-andai dapat memiliki waktu lebih untuk
kuhabiskan bersama keluargaku, maafkan aku ya Allah…)

Dan aku
yakin bahwa ini yang terbaik bagiku saat ini. Allah memang memberikan jarak
tempuh yang jauh dari tempat tinggalku menuju kantorku. Namun Allah juga
melengkapi sarana yang kuperlukan, mencukupkan rizkiku, dan yang terpenting
memberikan kekuatan tubuhku menjalani semua ini.

Terima
kasih ya Allah atas kenikmatan ini. Terima kasih ya Allah atas kecukupan ini.
Aku merasa lebih dari cukup, aku merasa kaya dengan rahmatmu ya Allah. Bantu
hamba untuk menjadi insanmu yang pandai bersyukur. Bantu hamba untuk menjadi
orang yang selalu bersabar atas kesulitan-kesulitan hamba. Bantu hamba menjadi
pengingat bagi sekeliling hamba bahwa Engkau Maha Pengasih, Engkau maha
Penyayang…

 

Sabtu, 1 April jam 19.42 waktu jababeka J

 

untuk
buah hatiku tersayang:

lahirlah
untuk menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur, Anakku…