All about my unforgettable moments, my learning experiences, anything that hopefully useful to read
Sepertinya baru kemarin aku berdiri di deretan barisan
upacara SMU sambil ketawa-ketiwi sendiri, tak percaya apa yang kulihat dan
terjadi semalam. “Dian masmu mau bengi dolan nggonku..”, dan Dian dengan tawa
yang tak kalah serunya menjawab : “emang masku kae pancen edan… “. Bukan edan
mungkin, tapi kedanan hihihi… (duh Tyas mbok ojo ge-er gitu… ).Yang ada hanya
kaget dan gak nyangka. Bagaimana dengan perasaanku? Hmm.. belum ada jawaban
yang pasti saat itu. Yang jelas Masnya Dian sudah berhasil mencuri perhatianku
dengan gebrakan mendadaknya, taelaaa.
Sedikit mundur… kelas dua es-em-a, Si Dian bagi-bagi
kartu nama. Cuma tersisa satu, padahal aku dan Rifa belum dapet jatah. “Wah
tinggal satu nih… Gimana kalo yang satu aku kasih kartu nama masku? Kan sama
aja tuh alamatnya.. “ Ya udah akhirnya aku ngalah karena Rifa milih kartu nama
Dian, dan aku udah cukup puas asalkan ada alamat Dian tertera di kartu nama
abu2 bertuliskan nama Masnya. It’s mean I already kept his name card before I knew him much.
Lalu rentetan peristiwa yang terjadi berikutnya, terlalu
panjang untuk diceritakan di sini.
Sekedar mengingat masa lalu, Dian berkisah.. “Yas, mbiyen
pas masku bar lahir arep dijenengi Tyas lho, Cuma karena laki-laki maka dinamai
Wisnu. Lucu yaa.. “ Kok bisa gitu yaaa, batinku berucap. Tapi masak sih
gara-gara nama aku sudah pasti jadi jodohnya kelak??? Hanya Tuhan yang tahu
memang… Dan senyum ibundanya masih segar sekali dalam ingatanku. “Ibu, nembe
masak nopo? “ gak lebih dan gak kurang sapaku waktu itu… Ngaso sebentar dari
muter-muter cari dana sama Dian, pilihan paling enak memang di rumah dia. Aroma
sambel tumpang ibu tercium dengan jelas sehingga aku seakan tak lagi perlu
jawaban ibu. Dan senyum ramah ibu juga tak kalah menawan dibanding aroma masakannya.
Hmmm… a great mom, a great cooking, and a great family I think.
Dan sekarang aku di sini, di Kota Hijau Cikarang Baru
bersuamikan seseorang. Nggak lain adalah masnya Dian, gak lain adalah orang
yang duluuuuu banget waktu smp suka nongkrong di depan lab biologi bareng genk
jahilnya hihihi.. (nih anak siapa yaa, cilik tur criwis dulu aku komentar dalam
hati), gak lain adalah orang yang malem sebelum ulangan biologi tiba2 telpon
dan bikin aku gundah gulana setelahnya (jadinya besok paginya nyontek ama Diah
dan Alex hehehe), gak lain adalah orang pernah sangat tersakiti oleh aku dulu
(mmm… yang ini gak usah diceritain yeeee, er-ha-es gitu loh ;)), gak lain
adalah orang yang paling bisa mengimbangi kecerewetanku (salute for you
beibeh…), gak lain adalah orang yang dengan ikhlas menyisihkan uang sakunya
untuk nge-bis ke Bandung dan jadi sakit typhus sepulangnya dari ketemu sama aku
(duh cucian…), yang selalu membantuku untuk maju, yang gak lain adalah hadiah
besar dariNya untuk aku. Dan Insya Allah akan bersamaku for the rest of my
life, amien amien… Alhamdulillah….
(still I cannot believe to have such beautiful gift from You ya Rob..)
I
want to make you smile, whenever you’re sad
Carry
you around when your arthritis is bad
All
I want to do, is grow old with you
I’ll
get your medicine when your tummy aches
Build
you a fire if the furnished is break
It
could be so nice growing old with you
(Adam
Sandler – Grow Old with you)
To all my family and
friends, thank you for supporting us.
To my beloved, best friend
and the one I wanna grow old with: let patience guide us to reach His blessing
my dear…
(Minggu, 10 Juli 05 menjelang
adzan Dhuhur)