Ibu… Hari Selasa yang lalu, aku mengajar bu. Sesuatu yang sudah begitu lama tidak aku lakukan. Mungkin yang terakhir sebelum itu adalah ketika aku hamil Lintang, mengajar gratis pemrograman ke teman-teman teknisi. Iya bu, gratispun rasanya aku mau. Karena dari mengajar, seolah aku menemukan diriku. Aku jadi ingat bu, dulu ibu juga seorang guru. Sepertinya dari ibu aku mendapatkan keinginan untuk mengajar.
Aku mengajar di sekolah tinggi Bu… muridnya bapak-bapak yang ditugaskan belajar pendidikan D4. Kurang lebih seumuran mbak Ninik lah… Gak kebayang lho bu, bagaikan masuk sarang penyamun. Lha wong laki-laki semua je. Seru juga sih… Pengalaman pertama ngajar di sini. Sebenarnya ini tugas Kadivku bu. Beliau berbaik hati memberikan kesempatan kepada kami yang masih muda untuk mengajar. Dan dengan begitu mau ga mau aku jadi buka-buka buku, nanya ke sana kemari.. Maklum, dosen dadakan… Kan malu Bu, kalo ga siap di depan mahasiswa, halah… Dan kabar baiknya adalah, kata pak kadiv caraku mengajar cukup oke.. Kecapnya nomor satu (kasian ya murid-muridku, podo kapusan kabeh :P)
Dan malam ini aku dinas sendirian di tower Bu.. Lagi-lagi kita sama ya.. Tidak banyak teknisi wanita yang dinas malam. Kita sebagian kecil yang termasuk ya Bu,hehehe… “Gak popo de, ndhisik ibu yo mlebu bengi. Sing penting dijogo kesehatane…” Iya bu, jangan khawatir. Tadi aku sudah minum sari kurma, makan mie ayam, nasi goreng (maruk yaaaa) ,dan dopping teh tarik panas untuk mengalahkan dinginnya tower bandara.
Aku jadi teringat lagi, dulu hobi banget nemenin ibu dinas malam. Sambil berlagak memakai headphone, berpura-pura menjadi ibu. Ibu begitu tekun menerima komplain, memberikan informasi, dan sesekali memberiku bonus dengan memutar nomor telpon teman-temanku. Hehe… lucu sekali.
Dan sekarang giliran Lintang yang ketagihan nganterin bundanya kerja. bukan untuk belajar jadi operator telkom bu, tapi untuk mengamati pesawat datang dan pergi, kejar-kejaran sama kucing penunggu kantin, sampai memetik setiap jenis bunga yang tumbuh di taman tower. Cepat sekali waktu berlalu ya Bu…
Hmm… besok sudah hari Minggu lagi. Hari “kencan” kita biasanya ya Bu… Dan besok, aku ada acara arisan di rumah. Tenang bu.. segalanya sudah siap insya Allah. Aku ga masak kok bu, pesen semua… Belum pede masak dan yang jelas mboten sempet… Salah-salah tamune keracunan kabeh, hihihi…
Sudah dulu ya bu, aku mau kembali bekerja. Ada sistem yang menunggu di cek, dan ada modul yang harus kulengkapi. Tapi ndak usah khawatir ibu, doaku untuk ibu selalu…
Aku sayang ibu… Cup cup cup mmmuaahhh!!!!
(titip ibu ya Karim… sampaikan betapa aku begitu menyayanginya..)
Categories: curhat
Mengapa harus bersedih ketika hendak bertemu dengan kekasih sejati
Mengapa harus menangis ketika ikhlas dan sabar telah berhasil kau jalani
ibu…
masih terngiang jelas di telingaku pesanmu
untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku
untuk menjadi seorang yang sabar layaknya dirimu
ibu…
betapa sejauh mata ini memandang selalu ada kasih sayangmu
betapa luas bumi ini tak cukup menggambarkan luasnya cintamu
bahkan senyum itu tak hilang dari rona wajahmu ibu…
Selamat jalan bundaku sayang…
begitu banyak kenangan indah terukir
begitu banyak pelajaran hidup mengalir
Allah sang Rahman…
Tiada yang lebih menyayangi ibu selain Engkau ya Robb
Allah sang Muhaimin…
Hamba titipkan ibu kepadamu saja yang senantiasa menjaga
Terima kasih ibu,
untuk setiap tetes keringat dan air matamu
untuk setiap doa yang kau panjatkan untuk kami
untuk berjuta cinta yang tak terhitung untuk kami
Sampai jumpa, di bumi tanpa sedih, di istana tanpa perih, Insya Allah… Amien
peluk cium kami, anak-anakmu.
———–
Wahai Jiwa yang tenang
kembalilah kepada Robmu dengan ridho dan diridhoi,
maka masuklah ke dalam golongan hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu
(QS Al FAJR : 27-30)
——–
Categories: Uncategorized
Guruku adalah Mas Wisnu
Yang mengajariku untuk mendengar dan memberi dengan hati.
Guruku adalah kedua orangtuaku.
yang mengajariku betapa materi tak berarti apa-apa tanpa cintaNya.
Guruku adalah mbak Is,
yang kian hari kian tangguh dengan perjuangannya.
Guruku adalah Bapak Pram,
yang dengan tulus membantu walau tanpa diminta
Guruku adalah Ibu Tri,
yang selalu menyejukkan dengan setiap nasihatnya.
Guruku adalah Dik Dian,
selalu memberikan yang terbaik, kepada siapapun, di manapun, kapanpun
Guruku adalah Dik Nila,
begitu pandai menyegarkan suasana, adalah mudah bagi siapapun menyayanginya
Guruku adalah Dik Tria,
gigih berjuang demi cita-cita.
Guruku adalah Lintang dan Langit,
membuatku tersenyum di tengah sejuta penat
Guruku adalah Adha dan Mbak Diah,
rela bertukar dinas, rela berbagi tugas
Guruku adalah Pak Hamzah,
tape goreng dan pisang goreng hangat tak pernah absen dibawanya
Guruku adalah wanita lusuh itu,
Bahkan terik jakarta tak sanggup menaklukannya
Guruku adalah semua temanku, di masa lalu, saat ini dan esok hari
membantu merangkai cerita dan mengisi hari
Guruku banyak sekali.
Tak cukup berlembar kertas menuliskan siapa lagi.
—————————————————————-
jelang magrib, 22 juni 09
Categories: Uncategorized
Semua hal jika dilakukan dengan senang hati, hasilnya akan lebih baik. Bekerja, belajar, menyanyi, menulis, dan tentu saja berdoa.
-*-*-*-
Setiap orang selalu hidup dengan harapan, keinginan, dan cita-cita. Menjadi sehat, menjadi sukses, memiliki anak-anak yang cerdas, membina rumah tangga yang harmonis. Masih kurang? Coba dengan ini: pulang dengan lancar, ga kena macet… Sampai di rumah bertemu dengan orang-orang yang disayangi, semua dalam keadaan baik… Atau mungkin, kelar project akhir bulan ini, bisa memenuhi janji target bahkan lebih cepat… Atau juga, bisa naik haji dalam keadaan muda dan sehat, bisa nyetir mobil, bisa menularkan ilmu yang dimiliki, bisa memasak nasi goreng yang paling wuenak sedunia… Hahaha… kayanya itu keinginan-keinginan terpendamku semua deh…
Semua orang bebas berkeinginan kan? Seringkali keinginan itu bisa segera terwujud. Ada kalanya juga keinginan-keinginan itu hanya sebatas impian saja, seolah gak ketebak kapan jadi kenyataannya. Apakah ada yang salah ya?
Manusia seperti kita yang serba terbatas ini dengan segala keinginan yang semakin hari semakin banyak saja… Kebutuhan-kebutuhan yang bermunculan silih berganti… Dulu… aku pengeeennn banget bisa lulus kuliah cepet… Akhirnya ketika beban mata kuliah habis, bingung ke sana-kemari mengejar topik tugas akhir. Dan berbagai judul datang dan pergi, mentok sana-mentok sini… Sampai akhirnya malah diterima kerja coop selama satu semester… dan akhirnya kelar juga kuliahku… selama…. LIMA TAHUN saudara… Menyesal? Sedih? Rasanya tidak perlu… karena selama itu pula aku memperoleh banyak sekali ilmu (terutama ilmu sabar :P).
Keinginan dan cita-cita kita, apapun itu semua adalah mungkin terwujud. Asalkan kita tahu bagaimana mewujudkannya dalam doa kita. Siapa sih yang ga pernah berdoa? Bukankah setiap sujud terakhir kita seringkali lebih lama dari sujud yang lain? Bukankah sebelum kita menutup mata setiap malam kita juga mengawali dengan doa? Setiap mau makan, setiap mau belajar, bahkan setiap mau pipis semua ada doanya kan? Tapi satu yang mungkin perlu dibahas lebih dalam, bagaimana kita berdoa? Apakah setiap kata yang kita gulirkan kita maknai? Apakah kita berdoa dengan hati yang senang dan muka berseri? Ataukah hanya keterburuan dan menggugurkan kewajiban saja?
Kembali ke kalimat pembuka, bahwa apapun jika dilakukan dengan senang dan nyaman, hasilnya akan lebih baik. Jauh lebih baik. Jika sepakat dengan ini, mari kita terapkan dalam doa kita. Berdoa dengan hati yang senang!!! Maka berdoalah dengan cara yang menyenangkan… Rangkailah kata-kata yang indah dan kita pahami sehingga kita berdoa seolah berkirim surat cinta pada kekasih hati, kepada yang paling kita sayangi, kepada yang paling dekat, dan paling kita percayai…
“Ya Allah…. Engkau yang Maha Lembut…. Engkau Yang begitu Pengasih dan Penyayang…
Jadikan siapapun yang berada di dekat hamba… senantiasa berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang…”
Lakukan dengan nyaman… Senyaman relaksasi pada akhir senam pagi… Tidak dengan terburu bagai mengejar bis yang nyaris berlalu…
Apapun doa kita… lantunkan dengan nyaman, untaikan dengan kata-kata indah, rangkai dengan nama-namaNya yang Agung… Dan percayakan waktu realisasinya hanya kepada Allah, yang Maha Pandai membuat rencana.
Seperti yang kubaca di buku Zona Ikhlas, doa yang kita panjatkan akan terwujud. Kapan? Hanya Allah yang tahu. Sama halnya kita memesan makanan di rumah makan yang sangat ramai, kita tinggal menunggu sampai makanan kita siap disajikan. Kita percaya bahwa makanan kita cepat atau lambat akan datang. Begitulah berdoa. Harus percaya. Harus Ikhlas.
Hah??? Ikhlas?? Mengikhlaskan doa kita? Berdoa dan berkeinginan tapi harus ikhlas? Yup!!! Karena semakin kita ngotot, semakin kita napsu, biasanya justru semakin jauh mimpi terwujud… Pernah gak ngalamin? Ketika kita sudah mulai lupa dengan doa kita, tahu-tahu aja keinginan yang dulu pernah kita doakan terwujud begitu saja. Itu dia kuncinya… ikhlas… pasrah… Zero… Semakin ikhlas, semakin bersih hati, semakin dekat mimpi menjadi kenyataan.
Jadi teman-teman, mari berdoa dengan nyaman.. Mari berdoa dengan yakin.. dan mari ikhlaskan setiap doa yang kita panjatkan, kepada Allah yang tentu saja paling indah rencananya. 
Selamat mencoba 
————————————————————
Jeng tyas, sekalian mengingatkan diri sendiri.
Ba’da magrib, 16 Mei 2009
Categories: suara hati
Tagged: Berdoa, ikhlas, Nyaman
Assalamualaikum teman-teman…
Dah lama ga curhat-curhatan nih… Kali ini bolehlah kiranya, aku berkangen-kangen ria… Hehe.. sepertinya akan menguras emosi nih tulisannya…
Pulang kantor kemaren, hari Senin malam yang bisa diperkirakan akan sedikit (kalo ga boleh dibilang banyak :P) macet di jalan, aku mampir ke kantin tower dan langsung menyambar makanan yang tersisa.. Pisang goreng sepotongpun tak mengapa, buat ganjel, lumayanlah…
Sambil duduk di ruang tunggu aku mengunyah pisgor hasil buruanku, nyam nyam nyam… Hmm… rasanya begitu melekat di hatiku. Lho, kok bisa? Emang apa bedanya sama pisgor-pisgor yang laen? Pisang goreng yang kumakan ini, sedikit sepet (sepet artinya belum mateng benar-red), masih rada keras.. Dibalur tepung yang tebel.
Persis banget sama pisang yang duluuuuu banget sering kumakan, pisang goreng langganan ibu. Selesai belanja sayur mayur, sering kali ibuku mampir untuk membeli sekantong plastik gorengan, biasanya ga jauh-jauh dari pisang, tempe, ubi, dan gembos (gembos itu adalah ampas dari pembuatan tempe/tahu). Penjualnya adalah ibu tua, waktu aku kecil aja kayanya dah 60 tahun-an. Ibu itu memilih berjualan di tempat yang rada masuk ke dalam pasar, kurang strategis alias mumpet. Rasa gorengannya juga ga bisa dibilang bombastis, pas-pasan alias biasa-biasa aja. Tapi entah mengapa, ibu seriiiiiiiing banget beli ke mbah itu.
Wajannya lebar, minyaknya penuh nyaris tumpah. Di belakangnya teronggok tumpukan tempe hand made (kayanya bikinan sendiri deh, soalnya ukurannya ga standar gitu) menanti dicemplungin ke penggorengan. Sesekali si ibu, dengan kebaya tanpa kendit mengusap keringatnya yang nyaris jatuh, ikut menuh-menuhin wajannya…
Aku baru sadar, waktu sudah lama berlalu. Waktu itu aku masih SD. Masih harus dipegang kenceng lenganku sama ibu kalo mau nyebrang jalan. Masih suka ngeyel pengen pergi ke pasar malam. Masih suka lempar-lempar buku kalo susah ngerjain Pe-Er (duh… isin banget…).
Dan gorengan yang cuma sepotong itu mengingatkan aku. Membawaku kembali ke sekian belas tahun yang telah terlewati. Masih sehatkah simbah yang jualan gorengan itu? Kok jadinya pengen pulang kampung yaa…
Sedikit melayang ke masa lalu… Inget banget, dulu waktu belajar naik sepeda. Kayanya mbak Is dan Bapak dah nyerah tuh ngajarinnya, hehe… Puter-puter di pelataran TK Sejahtera Loka saban sore juga teteup belum berani ikutan ke Curi Buthak untuk berburu mangga. Dan yang ga kalah seru, pergi berenang ke Garden River, Salatiga.. Hehe… pasti kalian2 bertanya-tanya, Garden River Salatiga? Iya, Garden River istilah keren dari Kali Taman (sumpah… garing yaaa). Pertama banget adalah sama Bapak, he´s the one and only person yang canggih berenang di rumah kami (kalo sekarang, kayanya de Tria dehhh…). Saking senangnya berenang, aku dan mbak Is minta lagi, minta lagi ke Garden River. Meskipun cuma bisa bergaya batu di atas ban item (mana aku juga item, bannya juga item–>tambah mirip aja sama batu hihihi…). Sepulang berenang, bapak biasanya langganan kerokan :P. Dan bapak ga kapok memenuhi keinginan kami.
Jadi inget juga dulu suka rebutan majalah Bobo sama mbak Is. Beberapa kali majalah sobek saking hebohnya tarik-tarikan. Wah wah… Kami memang lucu, kadang kompak, kadang berantem :P. Saking kompaknya, berseri-seri film silat Mandarin dah khatam berkat patungan hasil menyisihkan uang jajan. Saking kompaknya juga, kursi hijau bersejarah dari zaman kami belon ada menjadi korban aksi meniru adegan silat Mandarin Thio Bu Ki, dan Kwe Ceng, Ciaaaaat!!!! Gedubrak…. Prakkk!!!
Jadi inget juga sempet punya banyak kucing di rumah. Ada willy, temon, manis, duh siapa lagi ya namanya? Oya, ada yang namanya Endang, hahaha… Sampai2 sempat ga enak ama tetangga di belakang rumah, namanya juga Endang karena suka banget teriak2 ngabsen kucing kalo dah waktunya makan. Benar-benar tak terlupakan.
Sekarang mbak Is dah punya anak, aku juga udah. Masa kanak2 adalah milik mereka, anak-anak kami. Semoga masa kanak2 kalian berbahagia yo gendhuk dan thole… 
——————————————————————————————————
Jauhnya melangkah, tak terasa lelah yang menerpa
Kini kian dekat segala yang pernah kudamba
Lalu darimana datangnya rindu
Membuatku ingin berlari
Biarkan aku kembali
Bermain berlari berputar menari
Biarkan aku kembali
berkhayal melayang terbang jauh tinggi
Biar ku pejamkan mata, sejenak kembali
Masa kecilku….
(Indra Lesmana - Biarkan Aku Kembali)
Categories: curhat
Tagged: curhat
Mencintai kamu bikin engga doyan sama makan..
Badan gue kurus, capek ngeladenin kamu…
Mas Kaka dengan suara serek serek khasnya melantun di telinga. Lagu yang sangat jauh dari kesan romantis, tapi kuulang-ulang terus… Lagi lagi dan lagi..
Balikin ow ow balikin, body gue kaya dulu lagi
Elo bakal kena tanggung jawab…
Kayanya samping kiri kananku di AC121 Mayasari Bhakti mungkin membatin nih cewek komat-kamit ga jelas.. Untung aja suaranya seindah permata… (halah… males deh…). Hahaha… kok ga bosen-bosen yaa… Mungkin kalo mas Kaka kriwul bisa, doski bakalan protes… Bisa bisa tambah kriwul nih jeng… Dari tadi balikin balikin ga brenti brenti…
Lucu juga, dengan Balikin Slank jadi keinget masa kejayaan (lagi lagi halah…). Jadi inget dulu waktu masih Es-Em-A, jadi inget waktu dulu masih bimbel di Djokdja… Sori ya Pit… ketularan belekan gara2 sempet nyuci piring bebarengan. Padahal Vina yang seranjang ama aku saban hari malah kebal. Amazing Vina… Kangen nih Vin… Tapi mustinya bangga lho Pit, ditulari oleh seorang seleb dangdut kaya diriku… kekekekekkkk….
Jadi inget waktu lagi serius sama ujian kelulusan. Fisika yang membuat mata sipitku terpaksa kubelalakkan.. Soal yang tak terpecahkan.. Alhasil nyaris angka enam menghias NEM.. Maaf ya bu Isna… merusak reputasi baik anda 
Tapi ini yang paling seru… Hihhihihi… jadi pengen malu… Lagu balikin is my sound track with ayahnya Lintang dan Langit… Kaset bersampul orens Slank, dengan tulisan tangan, otentik dan orisinil. Haduh… jadi pengen malu… Lirik ga ada romantis-romantisnya pun mboten masalah sama sekali. Tetep enjoy, khusu, dan khidmat ngedengernya.
Kalo lihat Lintang dan Langit sekarang, duet gokil buah cinta kami… Betapa waktu begitu cepat berlalu ya… (mulai deh melow…). Jadi geli, ga percaya, sudah melangkah sejauh ini. Hmmmm…. Dah berapa tahun yaaa… Sejak hari pemberian kaset balikin itu. Jangan-jangan maksudnya cuma minjemin terus minta dibalikin lagi (apa sehhhh….. tambah ga jelas nih…)
Dah mulai pegel… kerja PS hari kedua di week end. Alhamdulillah 2 hari besok, di sisa long weekend daku libur, yesss…
Yak… Sebagai penutup kerja sore ini… please wellcome my beloved star… ceklek… kulik kulik klutik trung…. Dan mas Kaka yang kriwul pun menyanyi lagi 
Jeng ty, menjelang magrib
Can’t wait any longer to get home.
Categories: Uncategorized
Hidup ini memang berwarna-warni. Seperti pelangi, ada biru merah kuning hijau biru… eh kok birunya dua kali…
Sedikit bercerita… Di kantorku lagi heboh dengan penghapusan bis jemputan. Nyambung ga yaaa dengan pelangi… hihihi… Kami sebagai teknisi yang bekerja shift dan harus tepat waktu setiap hari. Pekerjaan yang kurang lebih memantau operasional bandara, dari hulu sampai hilir. Dari yang di darat sampe yang di langit. Dari pesawat take-off sampai landing. Dari ngurus parking stand sampai kamera bandara. Dari ngurus AC yang mati sampai supply listrik. Dari ini sampai itu. Dari itu sampai ini. Buanyak yaaaaaa….
Nah… kami sebagai karyawan BUMN pengelola bandara ini, dengan hati yang harus ikhlas… (iya harus ikhlas… kan habis baca Quantum Ikhlas bow… :D) menerima kenyataan bahwa bis jemputan operasional di-delete, di-cut, dan di-erase. Hiks… tapi mboten pareng bersedih… Meskipun sedikit nyesek… (ingat tyas… ikhlas ikhlas… Gusti Allah mengizinkan semua ini…).
Memikirkan side, front, dan back effect dari penghapusan jemputan operasional kami. So pasti ada yang seneng, ada yang kurang seneng… Karena yang pasti uang transport kami akan dibagikan penuh, tanpa potongan untuk patungan bayar big bird. Wah… bisa nyicil motor nih… begitu kata temenku yg rumahnya deket. Wah.. bisa nyicil mobil nih… gitu juga komentar temen yg lain… Bahkan ” Wah… bisa nyicil rumah nih…”. Asyik banget yaa. Alhamdulillah…. banyak yang bertambah makmur… bertambah subur… seperti suburnya bumi Indonesia ini.
Dan kami yang jarak tempuh kategori jauh. Berlapang dada dengan mencari alternatif jemputan swadaya… Berbagai nama provider armada pun dilontarkan, big bird, xtrans, sampai patungan rame-rame beli mobil… Hehehe.. seru abisss… Dan patungan yang harus dikeluarkan otomatis bertambah dari potongan uang transport. Ga ada subsidi gitu loh…. Dan bernafas lega karena masih bisa ikutan jemputan swadaya… Thanks to Pak Ngkos yang ngurusin cari-cari armada, yang rajin ikut rapat dengan serikat pekerja, yang rela meluangkan waktunya demi lobi-lobi ke manajemen. Dan sekarang waktunya bertawakal teman-teman semua… No jemputan, but still working on time. Bisakah kita?
Terlepas dari adil atau tidaknya perusahaan (namanya juga perusahaan… mana ada yang sempurna..). Jadi nambah lagi pelajaran, ga boleh berharap sama manusia, apalagi perusahaan. They are not so perfect.. Berharap hanya sama Gusti Allah saja, dan kita tak akan pernah kecewa. Ga ada bis jemputan nih ya Allah… Hanya atas izinMu saja, maka bantu kami melalui ini semua… Mungkin begitu singkatnya. Dan mak nyessss… jadi reda segala kekhawatiran ini…
Warna apa ya jadinya yang mewarnai pelangi romansa kerja (haduh… rada dangdut ya kata2nya) ? Merah kuning biru dan kelabunya… Semua akan memperkaya dan memperindah pelangi itu sendiri. Semoga :)
Jeng Tyas, Sabtu di tower.
Categories: suara hati
Tagged: bis, ikhlas, jemputan, pelangi
Sekitar November 2008, di kamar mandi tower.
Halo mbak Tyas… Aku berpapasan dengan temanku, seorang ATC yang seumuran dengan aku. Apa kabar mbak? Begitu sapaku. Bukan basa-basi sama sekali, karena meskipun sama-sama di tower intensitas pertemuan dalam sebulan bisa dihitung dengan jari. Baik mbak… cuma ya… rada sedikit pusing aja.. Lagi abis ada masalah nih…
Mbak Rara, sebut saja begitu.. Dia baru saja berurusan dengan perceraian. Pindah cabang sampai dilakoninya, demi menjauh dari mantan suami. Dari mukanya tampak tersimpan rasa letih. Kebayang sih, siapa juga yang mau bercerai… Pindah kerja thok aja udah menyita energi, ini lagi pindah kerja sebagai buntut perceraian. So pasti kebayang…
Gimana ya mbak biar hidup itu berasa enak?? Mbak Rara bertanya, sambil mematikan keran washtafel. Hmmmm… biar enak ya harus ikhlas mbak… Begitu jawabku sembari membenahi jilbabku. Kan semua terjadi hanya seizin Allah to? Kalau kita ikhlas ya pasti enak… Karena Allah itu gak bakalan salah memberi apapun. Ya cobaan, ya rizki, ya jodoh, ya musibah, pokoke apapun. Ga pernah ketuker mbak… Selalu ada hikmahnya.
Kalau berasa ga enak hati, ya minta to sama Gusti Allah, lha doski yang punya segalanya je. Yakin bahwa Allah itu Maha menyayangi kita, mengabulkan doa-doa kita, mendengar keluh kesah kita. Gusti Allah saja yang ga pernah komplain kita curhati 24 jam sehari 7 hari seminggu. Resto Mc D juga kalah… Nah kalo dah gitu ya kita tinggal berserah diri… Pasti wenak…
O… gitu ya? Terus gimana dong caranya?
Hmmm… aku abis baca Quantum Ikhlas mbak, kayanya kok pas buat dibaca sama mbak. Besok deh kubawain. Kapan dines lagi?… Dan akhirnya kita berdua kencan untuk pinjem-pinjeman buku.
Seminggu kemudian
Mbak Tyas!!!! Mbak Rara semangat banget duduk di sebelah kiriku. Nih bukunya, bagus banget lho mbak!!! Ternyata senang susah semua itu tergantung kita sendiri yaa. Makasih lho mbak… Bukuku kuterima dengan senang hati. Senang karena ada yang baru merasakan manfaatnya. Semoga….
Desember 2008, Di bis jemputan.
Halo?!!! Agus!!! Agus??? Eh bukan gitu ding, Halo… Dik, lagi ning endi? Suara mbakyuku tersayang memecah mimpi yang hampir saja kurajut. Brrrr… dengan sempoyongan kudengarkan suaranya. Mataku masih berat, seberat pintu rack strip printer di ruang kontrol ATC. Wes ewes ewes.. nyil unyil usrok, wul ketiwul tiwul… Kalimat mengucur deras dari mbak Is. Aku sampai gelagepan menjawab. Tapi syukurlah memang pernyataan2 mbak Is ga butuh banyak jawaban. öh gitu yaaa… Mosok sih? Alhamdulillah… Syukur deh!!! itu jawaban-jawaban pendek dari derasnya cerita mbak Is. Hmmmm…. Ada apa gerangan? beberapa hari yang lalu kukirim buku ijo favoritku, semoga bisa menjadi bacaan yang mencerahkan. Di tengah-tengah banyak masalah yang dicurhatkan oleh mbakyuku semoga bisa menjadi penyejuk.
Dan hasilnya…. tepat seperti yang diharapkan… Semua berbalik begitu sempurna, begitu menyenangkan. Dan rasa-rasanya aku rela mengorbankan jam tidurku di bis jemputan demi mendengar cerita serupa
Juli 2008
Bu, tempat bekalnya yang tupperware di mana? Mbak Atik – my lovely nanny bertanya, karena biasanya sepulang kantor tempat bekalku yang kosong sudah bertengger di tempat cucian piring dengan manisnya. Wah… keri mbak ning kantor, sesuk tak golekane (ketinggalan di kantor mbak, besok kucari deh). Dan besoknya pun aku gagal menemukan tempat bekalku yang lumayan baru dan trendi itu. Ga ono mbak… ada yang bantuin nyimpen kayanya hihihi… Aku lapor ke mbak Atik sambil terkikik… Namanya pelupa ya ikhlasin aja. Berarti emang belum rejeki.
Lah bu… kan itu masih baru.. Terus ibu kalo dines malem bawa bekalnya ditaruh mana? Udah deh mbak… gapapa, tenang aja. Lha udah ilang kok…
Besok paginya,
Bu Wisnu… ini aku bingung mau kadoin apa ya buat Langit… Popok sama perkap baby pasti bisa nglungsur mbaknya toh? Jadi ya udah aku beliin ini aja, bisa buat ibunya malah… Bude Agus, tetangga depan rumah memberikan bungkusan ungu. Dia belum pulang pun aku dah berujar dalam hai, subhanalloh… Ini kan bekal makan kaya yang kupunya, yang ilang kemaren itu to? Ealah… baru semalem diomongin kok dah langsung diganti. Persis!!!!
Oktober pertengahan, 2008
Aku dan suami berangkat ke Siloam Hospital Cikarang. Di mobil dengan berapi-api kuceritakan apa yang kubaca di buku Quantum Ikhlas… Dan ternyata bojoku yang ciamik itu sudah lebih dulu berpositif feeling, seperti yg di buku Quantum Ikhlas tanpa disadarinya. Wah… beruntung sekali aku punya suami sekeren Mas Wisnu (sori… bukan narsis lho, cuma bersyukur aja…). Hari itu kita berniat nengok baby boy mbak Evi, dede-nya Rayya.
Habis nengok baby, kita rasanya lemes alias laper.. Mungkin saking semangatnya berbagi pengalaman punya baby sama tante Evi
Hmmm…. dimana-mana bayi emang bikin gemes ya.. Ayuk mampir beli mie ayam mas, aku usul ke mas Wisnu sepulang menengok. Itu di pujasera aja, kan deket… Demi melihat muka mas Wisnu yang semburat laper, kasian juga. Timbang ntar pulangnya buru-buru.
Depan mie ayam, ada yang jual majalah. Hmmm… boleh nih liat-liat dulu. Apalagi ada tabloid yang menarik sapi eh.. hatiku. Mas-mas tolong dong ambilin tabloidnya.. Walah… yang jual lagi sibuk. Ayuk dek, dah ga tahan nih… Begitu kata mas Wisnu. Hm… padahal pengen banget baca tabloid, tapi semburat laper di muka mas Wisnu semakin menyala tuh. Kasian juga. Ya udah deh mas, maem dulu yuk.
Sesampai di meja tukang mie ayam, ada tabloid yang sama persis dengan tabloid yang tadi pengen kubeli. Mas Wisnu terkekeh… Hehehe… Quantum ikhlas ni yeeee. Aku pun tersipu sambil ngeces, Ngeces pengen baca tabloid, sekaligus ngeces bayangin mie ayamnya. Langsung deh kusamber tabloidnya…. Akhirnya kita makan mie ayam dan baca tabloid– gratis bo… boleh pinjem dari mas tukang mie, ga usah beli. Hahaha… keren ya?
Februari, 2009
Ini waktu aku menulis tulisan ini. Hehehe… kejadian apa yang keren lagi ya? Mbak Atik pulang kampung, yang kesekian kali. Rada ribet musti tuker2 jadwal dinas. Tapi ya apa boleh buat… wong memang lagi ada perlunya. Aku berharap semoga lancar urusannya dan cepet balik lagi. Akibat tuker2 jadwal, aku musti kerja longshift hari Senin dan Selasa, kebayang… Semoga my body strong enough. Ehhh… ternyata ada training dadakan di kantor pas hari itu, dan masih ada ruang untuk aku ikutan. Jadinya dapet ilmu baru dan so pasti dapet uang saku… Alhamdulillah… bisa buat beli beras dan mainannya Lintang (dasar ibu-ibu…. ga jauh2 dari dapur :P).
Terus… apalagi ya? Wah… begitu banyak kejadian yang keren-keren tapi tak tertulis di sini… Bukan cuma aku lho yang mengalami yang keren-keren… mereka yang lain juga.
Begitu banyak hikmah dari setiap peristiwa. Begitu banyak keajaiban menanti kita, asalkan ikhlas dan percaya. Percaya sama siapa? Sama Allah Yang Maha Keren tentu saja. Betapa memang seperti ditulis di buku Quantum Ikhlas, tombol bahagia selalu ada di sana, dalam hati kita, dan siap dipencet kapan saja. Wow… Cool!!!!
Teman-teman pembaca yang budiman… maafkan aku yaaa.. Bukan pengen berbangga, cuma berbagi kebahagiaan saja. Bahwasanya ikhlas itu ujung2nya ya itu tadi, bahagia. Apakah aku termasuk yang selalu ikhlas? Waaaahhhh…. amien amien… Tapi sejatinya (kaya nama rokok ya
)aku juga masih dalam tahap belajar… Masih harus diingatkan. Namanya juga manusia, ya kan? Harapanku adalah, supaya semua yang membaca tulisanku ini menjadi terinspirasi dan percaya, bahwa ikhlas itu menyenangkan. Banyak yang bilang ikhlas itu tidak mudah. Mungkin iya, tapi yang jelas sangat MENYENANGKAN.
Percaya deh… mau ya? Harus lah pokoknya, rugi kalo ga ikhlas… (maksa dot com). Panduan singkat tentang bagaimana menjadi ikhlas, monggo dibaca di buku Quantum Ikhlas, The Power of Positive Feeling. Terima kasih Mas Erbe Sentanu, semoga Allah mencurahkan berkah dan kebahagiaannya ke mas Erbe, yang sudah bagi-bagi ilmu ikhlasnya. Buat teman-teman yang lain, selamat mencoba
jeng Tee
Categories: experiences · suara hati
Tagged: Erbe Sentanu, feeling, ikhlas, menyenangkan, positive
Seko judul ning nduwur, jelas banget iki tulisan bakal nganggo boso Jowo. Weleh… mudeng po rak yo? Kudu mudeng pokok’e lah. Yen rak mudeng yo kursus dhisik, durung telat lan mesthi manfaat.. Rak percoyo? Jajal… ning ngendi awakmu gak nemoni wong Jowo, hayo… Terminal? Lha kae sing bakul bakso pojokan lak yo wong Jowo (malah mungkin luwih spesifik, wong Solotigo kekekekekkk…. ) Ning Kantor opo meneh… Ning kampus lak yo samsoyo… Pancen wong Jowo kok pating tlecek ning seantero Endonesia yo, opo meneh ning Jakarta. Ora arep maksud Jowoisme ki, sumprit… Sakjane kakehan merantau yo ga apik-apik banget kok, mesakne kampunge to ya, lak sopo mengko sing mbangun… Mungkin mung Den Baguse Ngarso, Pak Binah, Sronto, karo Kuriman wae sing isih setia nunggu lan mbangun desone (halah… kuwi sopo to? )
Oke… oke… sakdurunge mlebu ning inti cerita, tak ceritani dhisik yo, ngopo kok aku ‘tergugah’ kepengen nulis nganggo boso Jowo. Sepisan, mergo aku bar diweruhi (dudu diweruhi sundel bolong lho yaaa) file video karo koncoku kantor, judule Ajar Nggitar sing isine kuwi tutorial nggitar wong bule tapi di dubbing boso Jowo. Jebul lucu yo.. tampange Londo tapi logat Magelangan, hehehe Ping pindhone, tak rasak-rasakne nulis nggo boso Jowo kuwi kok luwih akrab, membumi (halah….!!!), lan kuping-friendly. Lho kok kuping? Mripat-friendly ding. Koyoto cerito marang konco lawas. Lak yo ngono to pak manteb? Ketelu, aku durung tau dadi iki tulisan pertamaku nggo boso Jowo. Mugo-mugo nambah khasanah penulisan berbahasa Jawa ning bumi Indonesia iki (jan pede banget yooo!!! ) Sisan nguri-uri (dudu nguriki lho ya) ngono lho..
Yo wes… saiki mlebu ning inti ceritane. Ngene lho. Wingi kae dino Rebo bengi. Koyo adate aku mulih seko kantor jam pitu bengi. Nunggu jemputan karo ngantuk teklak-tekluk. Ayo lek ndango teko bisku… Selak pengen turu ki. Abut (saking abote) sakpole mripat iki.
Menjelang setengah wolu, bisku teko lan aku bersiap-siap merem… Asyik.. wektune ngimpi. Prepet prepet… aku merem. Ngimpi lagi setengah episode, hapeku bengak-bengok.. hhhhhhhh…… sopo iki, lagi asyik-asyik ngimpi je.
Tak angkat to ya, timbang mbrebegi konco2ku sing ora bedo karo aku, lagek asyik-asyike merajut mimpi. Jebule mbakyuku sing nelpon. Ono opo lak an? Sajak ora biasane telpon dino Rebo.
Begitu tak angkat, langsung wae mbakyuku cerita ngecuwis… Ngalah-ngalahke aku sing sakomah jagoan urusan cuwis-cuwisan. Aku mung iso komentar ” Ho-oh to?”, “oya?”, “Mosok sih?”, “Tenane?”, lan komentar sing paling acih… “Alhamdulillah… yo Syukur yen ngono mbak….”. “alhamdulillah maneh, maneh lan maneh…. Sing diceritakne mbakyuku kuwi bener-bener cerito sing menyegarkan, mencerahkan, lan membahagiakan (sori yo, campur boso indonesia sithik). Sasi wingi mbakyuku nyeritakne kabeh masalah uripe, akeh lah pokokmen. Seru, lan kedawan yen tak ceritakne ning kene. Aku sing isih rodo umbelen iki dicurhati sampe lemes. Curhat sampe beberapa episode. Kok ya ndilalah lagi bar moco bukune Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu. Tak kirimi wae kanggo deweke, mugo-mugo iso mbantu, soale buku iki berhasil kanggo awakku. Eh… kok jebul kepareng karo Gusti Allah. Koyo Dora, senengane Lintang “Berhasil berhasil!!!!” Intine buku kuwi, perubahan kuwi seko awake dewe, kebahagian juga seko awake dewe. Yen biso ikhlas, bersyukur karo gusti Allah, mesthi kabeh masalah ga bakalan marakne sedih2 banget. Lha wong kabeh kersane Gusti Allah, lak yo ngono to? Njaluk tulung karo Gusti Allah sing paling perkasa methi kepareng, anggere ikhlas. Ikhlas = zero…. Semeleh yen bosone wong Jowo. Nahhh…. mbakyuku sajak’e mraktekne ikhlas kuwi mau. Mujarab lho jarene. Mujarab tur instant. Ora nganggo efek samping, selain kebahagiaan. Keren yo? Subhanalloh… Pancen Gusti Allah kuwi keren -ok!!
Aku dadi rak ngantuk babar blas… ajaib. Cuman yo kuwi kupingku rodo senut-senut saking panase hapeku. Lha wong online all the way!!! (saiki rak mung campur Indonesia, malah boso Inggris barang, jan… jan… ora konsisten ik). Yen saben dino krungu kabar apik koyo ngono, wah wah… ketoke melek soko kantor tekan omah yo gak popo. Tak belani wis. Jan nyenengke tenan. Ngantuk dadi melek, Ngelih dadi wareg, kuru dadi lemu… (ojo ding… wis ideal je :P). Seneng iso dadi lantaran perubahan sing apik. Alhamdulillah… mugo-mugo luwih akeh wong sing melu ketularan efek kebaikan seko buku iku, seko ceritoku. Amien amien…
Hayo… saiki tak takon, sopo sing minat moco utowo duwe Buku Quantum Ikhlas? Monggo… rak sah isin-isin, ketik Reg spasi Manjur, halah… Ora ding, tapi sing bener: sms wae ke nomerku (tyas, mosok ga kenal sih): 081511454364. Ojo lali, tulis jeneng, karo alamat sing nggenah, jelas tur valid. Lima pengirim pertama berhak mendapatkan buku iki. SMS lho ya, soale yen via email or komentar aku durung mesthi moco. Arep cuti ki sampe awal Januari.
Yo wis ngono dhisik yo… tak tunggu sms-e. Tenanan ki, ga ngapusi.
Tyas
Categories: Uncategorized
December 12, 2008 · 1 Comment
This is a very dynamic Friday. For the rest of the day I’ve done not only one thing– merely in front of my desk top - but also hear some assessment related to my work field, Safety and Risk Management in air traffic controlling system.
It’s not a brand new thing actually. But this time we talk about it in detail. I’ve found it very interesting to rank system failure risk, inter subsystem coordination matters, and so on.
Maybe this kind of discussion should be arrange more often. It freshen my day, makes me aware about the real risk I should take when doing anything disorderly.
Hmmm… this writing look very short and i almost run out of words. My English… o my English… Hope I can improve my English ability soon. 
Categories: Uncategorized